Friend Never Die
Min Lee adalah seorang petani yang hidup dibawah garis
kemiskinan, jari ditangan kirinya buntung akibat terkena paku ranjau bekas
perang saudara Korea Selatan dan Korea Utara, sahabatnya Anh Boo hanyalah seorang
pengangguran yang hobi memancing. Mereka tinggal di desa Gwangnam, daerah yang
hanya berjarak 1.2 km dari perbatasan Korea Utara.
Minum adalah satu-satunya kesenangannya disepanjang hari, mereka
tak punya banyak pilihan, hidup diantara suara gemuruh bom yang memekakkan
telinga, wilayah yang selalu diawasi dengan ketat dan keamanan yang rapuh
membuat mereka selalu terbayang-bayang akan kematian. Mereka hanya tersenyum dan tertawa lepas saat
meminum terlalu banyak hingga lupa akan bayangan kematian itu. Setiap hari
mereka datang ke kedai favoritnya di pertengahan antara rumah mereka.
”Apakah besok anda sibuk?” Tanya Anh Boo dengan wajah
memerah karena minum terlalu banyak
”Sepertinya besok adalah waktunya kita untuk
bersenang-senang lagi ” jawab Min Lee sambil tertawa lepas.
”Kalau begitu, mengapa kita tidak coba memancing ikan di rawa
sana” Anh Boo menunjuk kearah perbatasan Korsel dan Korut.
”Apakah anda bercanda
? Itu terlalu berbahaya !” wajah riangnya berubah seketika menjadi tegang
Dengan santai Anh Boo menjawab ”ya berbahaya, karena
anda tak tahu jalannya. Ada jalan setapak kecil yang mungkin sangat aman kita
lewati, saya juga memiliki teman seorang panglima yang berjaga disana sehingga
perizinannya akan mudah” sambil meyakinkan dan menatap serius wajah Min Lee
”Jika yang anda katakana benar, mengapa tidak kita coba?”
jawab Min Lee sambil tertawa riang dengan wajah merah kepucatan. Mungkin ia
menjawabnya dengan setengah sadar.
Keesokan harinya, mereka berdua berangkat saat masih gelap gulita
jam 3 pagi. Di portal perbatasan, Panglima Yon Si hanya tersenyum dan
mengingatkan untuk berhati-hati kepada Anh Boo.
Anh Boo memimpin jalan diantara ilalang yang tinggi menuju
rawa. Dengan cahaya senter seadanya mereka bisa mengetahui lokasi tentara Korut
yang sedang berjaga dekat sana. ”Apakah anda yakin ?” Min Lee berbisik sambil
ketakutan.
”Tenanglah, sebentar lagi sampai, semua kan baik-baik saja. Hati-hati,
tundukan kepalamu” jawab Anh Boo sambil
tergesa-gesa.
Namun Min Lee ragu dan panik karena ia merasa sedang diawasi
dibalik ilalang yang lebat itu, ia selalu menengok kebelakang untuk memastikan dirinya
aman sampai tak menyadari didepannya ada sebatang kayu yang sudah berlumut.
Brkkkkkkkkkkkk
Min Lee terjatuh dengan suara keras. Suasana menjadi kacau,
mereka langsung mematikan senter dan tiarap dengan muka cemas penuh keringat.
”Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Anh
Boo dengan muka frustasi
”ya, saya baik-baik saja.” Jawab Min Lee dengan wajah cemas.
Kemudian melanjutkan ”Jangan bergerak” sambil menutup mulut mengisyaratkan
jangan bersuara ”itu dibelakangmu ada sesuatu yang bergerak” Min Lee
malanjutkan sambil menunjuk arah belakang Anh Boo. Pergerakan ilalang itu
semakin mendekat. Mereka berdua pasrah.
Anh Boo menatap Min Lee dengan cemas berbalut pasrah, namun
raut cemas wajah Min Lee berubah seketika menjadi tersenyum dan menghela nafas.
”Apa yang terjadi ?” Tanya Anh Boo masih dengan muka pucat. ”Hanya seekor
anjing” jawab Min Lee dengan wajah sedikit harapan.
Mereka berdua berbaring menatap langit sambil menahan tawa.
Kemudian menghela nafas dalam-dalam bersama. Akhirnya mereka melanjutkan
perjalanannya kembali sebelum matahari terbit.
Kemudian mereka menyiapkan alat pancing, umpan dan
mengeluarkan botol anggur dari ranjang kuning serta sedikit makanan untuk
menamani rasa bosannya.
”Mengapa kamu hobi memancing ?” Tanya Min Lee sambil meneguk
segelas kecil minuman
”Entahlah” jawab Anh Boo dengan santai ”kau bisa mendapatkan
ikan sebanyak yang kau mau di pasar, namun kau takan pernah tahu rasa dari
hasil usaha yang kita dapatkan sendiri, itu berbeda” jawab Anh Boo sambil
meneguk anggur.
”Lalu apakah kau tidak bosan menunggu yang tidak pasti?” Tanya
kembali Min Lee dengan wajah yang lebih penasaran
”Kau bisa mendengar suara alam lebih jelas, kau bisa melihat
langit lebih lama, secara tidak langsung, kau akan merasa lebih dekat dengan Tuhan,
dengan segala ciptaannya, itu yang membuatku tidak bosan” jawab Anh Boo
Tak lama kemudian datang enam orang perawakan tinggi dengan
topi militer symbol bintang ditengahnya, yang satu berkumis dengan banyak
bintang didadanya. Ya itu militer Korut !!!
”Apa kalian mata-mata?” tanya tentara berkumis itu
”tidak tuan, kami hanya sedang memancing” jawab Anh Boo dan
Min Lee bergantian dengan muka pucat dan cemas
”Saya Tanya sekali lagi, apakah anda mata-mata?” Tanya kembali
pria berkumis itu
”Sumpah demi Tuhan, kami bukan mata-mata, kami hanya sedang
memancing tuan” jawab kedua sahabat itu memohon, kali ini sambil begetar dan
meneteskan air mata
”Baiklah kesempatan terakhir, jika kalian belum mengaku,
kalian terima resikonya. Apakah kalian mata-mata dari Korsel?” Tanya kembali
pria berkumis dengan wajah datar dan santai
”Kami hanya sedang memancing Tuan” jawab kedua sahabat itu
sambil menangis
”Bawa kedua orang ini ke kamp !” ucap
pria berkumis alias Sang Jenderal terhadap prajuritnya.
Kelima orang itu
memukul kedua sahabat itu hingga terjatuh dan menutupi kepalanya dengan kain
hitam. Di kamp dekat rawa, mereka masih diinterogasi.
”Apakah anda
mata-mata ?” tanya sang jenderal sambil duduk.
”Kami hanya sedang memancing tuan” jawab kedua sahabat itu
sambil menangis sesenggukan.
Kemudian sang jendral mengeluarkan pisau dan menancapkannya
pada Anh Boo hingga menempus telapak tangannya.
”Arghhhhhhhh, ampuni saya Tuan, saya berkata sejujur-jujurnya,
biarkan saya pulang…… Saya hanya orang Korea selatan yang sedang memancing
dekat sini. Saya bersumpah !” Anh Boo teriak dengan kencang yang membuat Min
Lee disebelahnya terdegug kaget karena tidak tahu apa yang terjadi. hanya
bayangan hitamlah yang ia lihat.
Kemudian sang jenderal memegang tangan Min Lee dan
membawanya jauh kebelakang dari Anh boo, sang jenderal berbisik. “anda akan
saya biarkan hidup, jika anda mengaku sekarang juga, jangan sampai hal serupa
yang dialami temanmu terjadi juga padamu, tangannya robek tertembus pisau karena
membohongi kami, sekarang katakan yang sejujurnya”
”Baik, saya akan berkata sejujurnya. Saya hanyalah orang
Korea Selatan yang sedang memancing disini” jawab dengan nada datar karena
pasrah dengan ajalnya. Ia tidak mungkin sedetikpun berfikir untuk menghianati
sahabatnya.
”Baiklah, berhubung diantara kalian berdua tidak ada yang
mengaku, sekarang terima resikonya, bawa mereka keluar kembali” teriak sang
jenderal sambil mengambil pisau yang tertancap ditangan Anh Boo.
Kedua sahabat itu
dibawa keluar dan bertongkat lutut menghadap rawa. Matahari mulai terbit dan
suara burung mulai ramai.
”Sepertinya ini sudah saatnya” Min Lee berkata pada Anh Boo
sambil menangis
”Ya, hari yang indah bukan, menikmati matahari terbit
ditemani suara burung yang indah, seperti yang baru saja saya ceritakan” jawab
Anh Boo sambil tersenyum meneteskan air mata.
Min Lee semakin menangis sesenggukan hingga membasahi kain hitamnya.
”Saya tidak pernah menyesal bersahabat dengan anda Tuan Lee”
sambung Anh Boo sambil sedikit tertawa
”Ya begitu pun saya, ini patut kita rayakan !” jawab
Min Lee sambil tertawa kecil
Kemudian Sang Jenderal mulai menghitung aba-aba. ” tiga….”
”Selamat tinggal kawan” pecah tangis Anh Boo tak bisa
membendungnya
”dua….”
”Selamat tinggal kawan” suara tangis Lee semakin lantang
”satu….” Duarrrrrr
Suara burung memekik keluar berhamburan dari pohon. Kedua sahabat
itu terjatuh dan menggelinding ke rawa, air hijau seketika berubah menjadi
merah kecokelatan. Dan tak lama kemudian jasad kedua sahabat ini tenggelam ke dasar
rawa. Mereka mati dengan cara terhormat. Tidak menghianati kawan maupun
negaranya.
Komentar
Posting Komentar