Surga yang Dirindukan, CEMORO
Waktu itu, kita pergi menggunakan transportasi motor, kurang
lebih 15 motor. Perjalanan sekitar 2-4 jam dari UNNES, termasuk ban bocor yang
dialami Abdul. Menjelang gelap, kita masih melewati bukit yang tinggi dengan
rintik hujan yang membuat tangan mati rasa.
Akhirnya kantor desa diatas bukit itu terlihat, perjalanan
panjang yang letih pun terbayar sudah dengan keindahan bukit yang dipenuhi
gemerlap cahaya lampu. Teh khas jawa yang identik dengan aroma dan rasanya yang
kuat menemani bincang hangat teman-teman
di gazebo sambil disuguhi pemandangan yang indah.
Teh dan kopi disini rasanya berbeda karena seringkali diproses dan diambil langsung dari kebun,
masyarakat rata-rata memiliki kebun yang ditanami berbagai macam tanaman atau
buah-buahan, sehingga ketika saling membutuhkan, mereka hanya bertukar hasil
kebun. Rasanya tidak akan takut mati kelaparan jika tinggal disini, karena
semuanya sudah tersedia disini.
Begitupula dengan keramahan penduduknya, saya merasakan
betul betapa tulusnya mereka menyambut kami, mendampingi kemanapun pergi dan
menjadi teman cerita setiap hari, semangat belajar mereka tentang kehidupan
menjadi inspirasi saya betapa indahnya hidup ini untuk dinikmati.
Satu moment yang takan pernah saya lupakan adalah ketika
mengajar anak SD kelas 3, kagum terhadap cita-cita mereka yang tinggi dan niat
mulia mereka untuk berkontribusi pada negara. Kemudian salah satu siswa saya
Tanya tentang hobi ”apa hobi kamu dek ?” dengan polosnya ia menjawab ”
saya hobi cuci piring kak”. Semua teman-teman tertawa ketika saya menceritakan
kejadian itu di evaluasi rapat. Rajin betul nih anak, senikmat apa sih kalo
cuci piring tiap hari? :D mungkin anak ini berpikir bahwa hobi itu kebiasaan,
dan masih banyak dari mereka yang belum mengerti tentang hobi.
Pelajaran yang dapat dipetik adalah bukan kita yang
mengajari mereka, tetapi kitalah yang belajar dari mereka tentang banyak hal,
ketulusan, keihklasan, semangat belajar dan masih banyak lainnya.




Komentar
Posting Komentar